Day 41 : Kita Pisah

 



        Hampa, kosong, seperti raga tanpa nyawa ... aku, duduk di samping ranjang di sebuah rumah sakit menatap kosong pada raga yang katanya sedang koma. Tepat di hadapanku pria yang begitu aku cintai melukai hatiku hari ini, tepat dihari bahagiaku, dan kabar bahagia yang akan aku sampaikan padanya akan tetapi semuanya hancur saat ia mengucapkan dua kata kala itu. 

30 menit sebelumnya ...

        "Kita pisah!"

        Aku terpaku mendengar perkataannya, dadaku bergemuruh, seperti ada petir dan halilintar yang menyambar di siang bolong, aku menahan bongkahan air mata agar tak segera terjun bebas namun persiapanku tak cukup matang, bongkahan air mata tak tertahankan aku mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang ia ucapkan itu salah dan hanya gurauan.

        "Aku gak salah dengar kan Mas Biyan? Kamu hanya bergurau kan?"

        Ia memalingkan wajah tak menghiraukan pertanyaanku, aku mencoba mencari pegangan, untunglah di dekatku ada sebuah kursi kafe yang bisa kujangkau. Sambil menarik nafas kuulangi lagi pertanyaanku.

        "Aku gak salah dengar kan Mas Biyan? Kamu hanya bergurau kan? Demi Allah Mas Biyan, jangan bercanda dan jangan main-main dengan ucapanmu. Aku akan memaafkanmu kali ini jika kau ..."

        "Kamu tuli Ta?"

        Ia menatapku tajam lalu beranjak pergi meninggalkanku, aku tak kuasa menahan tangis, aku kehilangan akal, kubuang test pack dengan garis merah di lantai, tak ada gunanya lagi kutunjukkan alat yang membuktikan aku tengah mengandung buah hati kami di rahim ini. Aku berlari tanpa memperhatikan jalan, sebuah motor dengan laju yang cukup kencang menggeser tubuhku hingga aku terpental ke arah bahu jalan. Darah segar mengalir dibagian kepalaku.

        Suasana kala itu cukup gempar, orang-orang berteriak di sekelilingku dan berusaha membawaku ke rumah sakit terdekat. Aku masih merasakan tubuhku diangkat oleh seseorang yang sangat aku kenali aroma tubuhnya, ia suamiku yang beberapa menit yang lalu meminta pisah, sayup kulihat ia memegang sebuah alat test pack yang kubuang dilantai. Lalu, semuanya menjadi gelap.  

***

        Aku membuka mata karena secercah cahaya menyilaukan menusuk mataku, aku terbangun bukan di pangkuan suamiku yang baru saja membopongku, namun tepat di mana aku terpental karena digeser motor. Aku tak mengerti apa yang terjadi padaku, samar-samar aku masih bisa melihat bahu suamiku yang bergerak naik turun membopong tubuh seseorang sambil berlari dari kejauhan. Namun konsentrasiku buyar karena seseorang tampak terburu-buru keluar dari kafe dan berlari ke arahku, aku berusaha menghindar namun rasa pusing menahanku dan pria itu ... menembus tubuhku. Aku terperangah, berusaha untuk memahami kondisi ini, apakah aku sudah meninggal?





Comments

  1. Replies
    1. Ada kak Ael 😁🤭 Postingan Day 42 : Maaf, Cinta 😍
      Ini kira2 linknya aktif gak ya di kolom komentar? 👇

      https://menulislahoz.blogspot.com/2020/10/day-42-maaf-cinta.html

      Delete
  2. Wah bu Oz pandai pula membuat cerbung rupanya, ketje nih

    ReplyDelete
  3. wah....kaget aku di bagian endingnya....

    ReplyDelete
  4. wah kemarin saya baca ini di postingan IG. Kerennn. Langsung copas link di atas buat sambungannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi ... Orang yang sama.. . Makasih Kak sudah mampir 😁🙏🏻

      Delete

Post a Comment

Popular Posts