Semangat Literasi Part 1

Tak pernah terbayangkan saya akan mengelola sebuah perpustakaan, meskipun perpustakaan sekolah. Yaps, karena kekurangan jam saya harus  menambah tugas sebagai Kepala Perpustakaan Sekolah. Keren ya namanya, padahal Kapus abal-abal. Itu dulu, sebelum saya mengikuti Pelatihan Kepala Perpustakaan tiga bulan yang lalu. Jadi, sekarang sudah Pro? Hahaha... belum. Kalau sebelum pelatihan namanya abal-abal, sekarang namanya amatiran... Tak apalah, yang penting ilmunya bermanfaat. Ya kan....

Awalnya perpustakaan kami terletak satu ruangan dengan Ruang Administrasi dan lumayan terabaikan. Apabila harus meminjam buku regulasinya pun seadanya, sudahlah ruangan penuh dengan staff administrasi, meja dan rak buku. Bisa dibayangkan anak-anak tak punya ruang untuk membaca. Kan sayang ya, kemudian setelah pergantian Kepala Sekolah yang baru dan saya selesai melaksanakan Program Pendidikan Guru di Unsri Palembang Sekolah kami mengalami kebanjiran yang mengakibatkan banyak buku-buku di perpustakan rusak. Setelah dinyatakan Lulus dalam PPG saya mulai mencari informasi bagaimana cara memenuhi jam mengajar dan menjadi kepala perpustakaan adalah solusinya.

Awal tahun 2019 saya diberi tugas tambahan untuk mengelola perpustakaan sekolah. Dengan terjadinya kebanjiran disekolah yang membuat banyak buku rusak membuat tugas saya dalam mengelola perpustakaan semakin berat. hal yang pertama kali saya lakukan adalah mengungsikan ruang TU karena saya butuh ruangan yang cukup luas untuk menata lemari buku dan juga agar anak-anak memiliki ruang untuk membaca.

Setelah menata letak perpustakaan, dengan pengetahuan seadanya saya mulai menyusun buku-buku berdasarkan kebutuhannya guru-guru dalam mengajar. Maka saya menyusun buku-buku yang biasa digunakan guru-guru dan memindahkan buku-buku yang jarang digunakan ke bagian belakang.

Tidak hanya itu, saya juga menambah pengetahuan saya tentang perpustakaan dengan cara browsing di internet. Berbekal pengetahuan alakadarnya dari Mbah Google saya memulai tugas sebagai Kapus abal-abal. Selain itu saya juga membuatkan kartu perpustakaan dan membuat regulasi peminjaman dengan menyiapkan buku kunjungan perpustakaan dan buku peminjaman perpustakaan.

Alhamdulillah, meskipun abal-abal selama satu semester pertama berhasil saya lewati dan cukup memberikan perubahan yang cukup signifikan bagi sekolah saya. Setelah resmi saya buka anak-anak terlihat sangat antusias dalam membaca. Saya pun membuat rewards bagi pengunjung terbaik dan peminjam terbaik mendapatkan keistimewaan bisa meminjam Novel yang hanya boleh dibaca di sekolah.

Setelah hampir lima bulan berlalu saya mendapatkan informasi pelatihan Kepala Perpustakaan di Jambi. Saya sangat antusias sekali untuk mengikutinya karena saya merasa harus memiliki ilmu dasar dalam mengelola perpustakaan. Saya merasa melalui perpustakaan bisa meningkatkan Literasi anak-anak saya.  

Saya pun memiliki harapan agar suatu hari nanti membaca tidak hanya menjadi sebuah keharusan atau pun keterpaksaan bagi anak-anak tetapi sebuah kebutuhan. Dan begitu pun juga dengan saya.

Semangat Literasi

Comments

Popular Posts