Day 11 : Keluarga Baru

Hatiku masih terasa sakit, mengingat apa yang telah terjadi kemarin. Sakit bukan karena Pak Budi menyakitiku, tetapi aku merasa Aditia beruntung memiliki keluarga yang sangat mencintai dan mengasihinya. Tidak seperti aku, apakah ini rasa cemburu? Seandainya aku memiliki keluarga seperti Aditia. Aku mungkin akan menjadi orang paling bahagia di atas bumi ini. Sedangkan ingatan pun aku tak punya. Arrgggghhh!!!! Kenapa aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi saat itu? Di pembuangan sampah itu. Panggilan Ibu Nina membuyarkan lamunanku. Ia adalah petugas di Dinas Sosial yang sudah tiga hari ini merawatku.

"Arya, ayo sarapan dulu."

"Iya Bu"

"Nanti siang, kamu akan diatar ke Panti Asuhan  Aisyah", sambil menyodorkan sarapanku yang terdiri dari nasi goreng dan telor dadar.

Aku terdiam. Ia mendekatiku.

"Kamu masih belum ingat apa-apa Arya", selidik Bu Nina.

Aku menggeleng.

"Kalau saran ibu sih, kamu nurut aja. Lagian kan ingatan kamu belum pulih, dari pada kamu luntang-lantung di jalanan."

Aku membenarkan perkataan Bu Nina, lebih baik aku menurut saja. Toh tak ada salahnya tinggal di Panti Asuhan. Setelah Ingatanku pulih, aku bisa mencari keluargaku.

Sebulan sudah aku tinggal di Panti Asuhan ini, aku sangat senang berada di sini. Berada diantara anak-anak yang juga kehilangan keluarganya, sepertiku. Kami memang tak punya keluarga, tapi di sini lah keluarga kami. Sore itu seperti biasa aku dan anak-anak panti bermain di halaman belakang. Ada yang membaca buku, ada yang bermain kejar-kejaran dan ada yang bermain ayunan. Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku dari kejauhan, aku menoleh mencari sumber suara. Aku melihat di kejauhan sosok yang ku kenal. Ia berlari sambil mengembangkan tangannya. Semakin lama- semakin jelas. Ketika ia mulai dekat, ia langsung memelukku erat. Seperti sudah bertahun-tahun tak bersua. Aku terkejut setengah mati ketika tahu yang datang adalah pak Budi. Istrinya pun tampak tersenyum sumringah. Seorang gadis kecil yang sedari tadi bersembunyi dibalik punggung Istri Pak Budi akhirnya mendongakkan kepalanya.

"Jadi ini mas Arya bu?"

"Iya, sini salim sama mas Arya" sahut pak budi.

Ia mendekatiku pelan-pelan, kemudian mengulurkan tangannya.

"Namaku Nuna, anaknya ayah yang paling cantik di dunia. Gak ada yang bisa nyaingin"

Aku tersenyum mendengar perkataannya dan menerima uluran tangannya. Ia pun langsung mengayunkan tanganku ke keningnya.

"Udah kan kenalannya, sekarang kita pulang yuk", sambil menarik tanganku.

"Tapi pak, kita mau kemana?", protesku.

"Pulang ke rumah ayah dong, sama ibu dan Nuna"

Aku mencoba mencerna perkataan Pak Budi.

"Tapi Pak ...."

"Sudah... tak usah tapi-tapi an, nurut aja sama ayah. Sekarang kamu anak ayah dan ibu. Ini adikmu."

"Ayo mas, Nuna capek ni berdiri dari tadi."

Aku gelagapan ketika Nuna pun ikut menarik tanganku. Meski aku berjalan dengan terpaksa mengikuti Pak Budi dan Nuna, Aku merasa sore itu begitu indah dari biasanya. Bahkan aku bisa mendengar dentingan lagu dari dedaunan yang saling bergesekan karena hembusan angin. Ah... apakah seindah ini memiliki keluarga?



Comments

Popular Posts