Day 71 : Mabok Laporan Daring

            Hai para pengajar di luar sana? Apa kabarnya? Apakah masih berjuang dengan pembelajaran Daring? Wah, tetap semangat ya di mana pun kalian berada. Saya akan selalu mendoakan kalian. Masih syok dengan pembelajaran daring tahun ini ya. Tenang, kita senasib sepenanggungan. Pembelajaran daring tahun ini merupakan syok terapi bagi tenaga pendidik dan juga peserta didik kita. Kemampuan teknologi yang kurang mumpuni, fasilitas gadget yang juga ala kadarnya serta stok paket yang kembang kempis.


            Semua problema itu kita rasakan se-Indonesia. Maka dari itu pemerintah membombandir tenaga pendidik dengan beraneka webinar yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat pembelajaran daring. Berbagai aplikasi pembelajaran daring pun disarankan demi terlaksananya pembelajaran jarak jauh ini. Ada yang berupaya dengan seluruh tenaga mengikuti dan belajar mengenal aplikasi tersebut dan ada juga yang ya sudahlah apa adanya sajalah. Toh mau secanggih apapun ilmu gurunya jika peserta didik tidak memiliki gadget dan paket data tetap gak ada keren-kerennya ilmu yang susah payah diperoleh ini.


            Stigma tersebut akhirnya dicarikan solusi oleh Kemdikbud dengan cara menggelontorkan bantuan paket internet bagi peserta didik dan tenaga pendidik agar dapat melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Apakah membantu? Tidak juga, anak-anak didik yang kurang bijaksana menggunakan paket internet bantuan tersebut malah sibuk membuat video dengan berjoget-joget disertai filter yang kekinian dan menguploadnya di media sosial, sedangkan untuk pembelajaran mereka mengeluh paketnya sudah habis. Miris.


            Akhirnya tugas banyak tak dikerjakan dan ujung-ujungnya tugas harus diulang kembali dengan cara mengambil tugas ke sekolah dan dikumpulkan kembali ke sekolah. Setelah hampir dua bulan kami melaksanakan Pembelajaran daring, Dinas Pendidikan Kabupaten Bungo memberikan izin kepada sekolah-sekolah untuk dapat membuka pembelajaran di sekolah dengan tatap muka, dengan tetap memenuhi protokol kesehatan dan melakukan sistem ganjil-genap. Apakah tenaga pendidik merasa bahagia? Tentu saja. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara karena Tenaga pendidik diwajibkan membuat laporan pembelajaran selama daring yaitu dua bulan yang lalu.


            Laporan ini membuat kami kocar-kacir dalam menyusun laporan, hal yang paling rumit ketika membuat laporan adalah ketika harus mengumpulkan foto bukti tugas dan anak sedang belajar di rumah. Jangankan foto anak sedang belajar di rumah, bukti tugasnya saja bisa dihitung jari siapa saja yang mengumpulkan. Akhirnya tenaga pendidik memutar otak bagaimana agar laporan ini tetap selesai. Sudahlah ketika pembelajaran terseok-seok, pada saat pelaporan pun termehek-mehek.


            Semoga tenaga pendidik di mana pun berada tetap tegar dan kuat menghadapi problema dalam dunia pendidikan tahun ini dikarenakan Pandemi Covid-19. Semoga tenaga pendidiknya menjadi lebih baik, sistem pendidikan menjadi lebih baik dan peserta didik juga menjadi lebih baik. Semangat menebar kebaikan. Amiiiinnn ....

Comments

Popular Posts