Day 61: Haruskah berterimakasih?


    
    

        Siapa sih yang tidak mengenal Covid-19 (Corona Virus Disease)? Sebuah virus yang berasal dari Wuhan,Cina, mewabah sejak akhir tahun 2019 lalu. Seluruh dunia mengenalnya, bahkan gentar melihat kekuatannya. Ia mampu meruntuhkan aspek kehidupan manusia dari segi ekonomi, kesehatan, dan pendidikan yang digempur hampir selama 8 bulan terakhir ini, khususnya di Indonesia. Semuanya kewalahan menghadapi mikro organisme yang tak kasat mata ini. Tak seorang pun luput dari dampaknya, termasuk kehidupan saya yang berprofesi sebagai guru. Sebagai seorang guru saya merasakan betapa besarnya pengaruh Covid-19 ini dalam kehidupan saya, yaitu saya dipaksa mengubah pola hidup dan cara mengajar.

        

1. Pola Hidup

a. Dari sebuah keterpaksaan menjadi sebuah kebiasaan baru

            Pernah merasa gak sih, ketika kita sakit kita suka merasa menyesal, "Jika saya makan teratur, saya pasti tidak akan kena maag." lalu, "Jika saya menjaga kesehatan, saya pasti tidak akan sakit." ada? Kalau tidak ada berarti cuma saya saja ya? Nah, penyesalan-penyesalan ini selalu datang di akhir kan? Ketika sudah terjadi. Bagi saya, Covid-19 memberikan penyesalan di awal. Dari berbagai banyak kasus positif serta pasien yang meninggal membuat saya, merasa harus mengubah kebiasaan untuk lebih sadar dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, di antaranya:

  • Kebiasaan mencuci tangan

            Kebiasaan mencuci tangan, bukanlah hal yang baru bukan? Kebiasaan ini sudah ada sejak dahulu kala, digembar-gembor untuk menyadarkan masyarakat lebih rajin mencuci tangan, tetapi tidak pernah berhasil, hanya segelintir. Kini, sejak kehadiran mikro organisme tak kasat mata, saya tak pernah absen mencuci tangan ketika sesudah memegang sesuatu dari luar rumah, seperti setelah mengambil uang di ATM, membeli makanan di sebuah toko, atau sepulang dari pasar dan sekolah. 

  • Handsanitizer barang wajib dalam tas

           Handsanitizer tidak se-populer sekarang. Saat saya duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, saya pernah membeli handsanitizer dan sempat berfikir, untuk apa sih orang-orang membeli handsanitizer sementara air melimpah ruah? Pada saat itu Handsanitizer digunakan sebagai pengganti air. Ketika tidak ada air untuk mencuci tangan, maka handsanitizer digunakan untuk membersihkan tangan dari kuman. 20 tahun kemudian, handsanitizer menjadi rebutan dan saya dikejutkan dengan berita bahwa stok handsanitizer menipis, lalu bermunculan lah orang-orang yang mengambil keuntungan dari pandemi ini yang menjual handsanitizer dengan harga yang tidak masuk akal. Alhamdulillah, kini harganya sudah kembali terjangkau, selain memiliki berbagai variasi dan model yang bisa dipilih juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Selain dari itu handsanitizer juga merupakan barang wajib ada dalam tas selain lipstik, charger hp, pensil alis dan alat make-up lainnya. 

  • Masker is a must

            Dulu masker digunakan untuk bepergian jarak jauh dengan kendaraan bermotor, saya pun sesekali menggunakan masker ketika berangkat ke sekolah, sesampainya di sekolah saya lepas. Tujuan menggunakan masker pun untuk menghindari debu yang berterbangan di jalan. Sejak Pandemi Covid-19, masker merupakan sebuah benda penting yang wajib saya bawa dan pakai ketika keluar dari rumah. Tujuannya pun sudah bertambah, selain menghindari debu di jalan, juga mengindari penularan virus Covid-19 melalui droplet.

  • Social dan physical distancing

            Menjaga jarak dan tak bersentuhan secara fisik adalah sebuah kebiasaan baru yang cukup sulit saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan bersalaman dan berkomunikasi dengan keluarga yang lebih berumur dan orang tua yang sudah tertanam selama hampir 25 tahun harus diubah. Canggung, itulah yang saya rasakan sampai sekarang, begitupun yang siswa-siswi saya rasakan, bahkan para alumni yang telah lama tak berjumpa harus menahan hasratnya untuk menciumi punggung tangan saya sebagai rasa takzim.


b. Menjaga imunitas tubuh 

            Sejak gerakan tetap dirumah, bekerja dari rumah, belajar dari rumah digaungkan delapan bulan lalu, daya tahan tubuh mejadi prioritas utama bagi saya. Mulai mengkonsumsi buah, sayuran dan jangan lupa tetap olahraga adalah beberapa cara yang saya lakukan untuk menjaga imunitas. Rendahnya daya tahan tubuh bisa menjadi celah bagi para virus ini menyerang tubuh.


c. Tetap waras dan produktif di rumah 

            Tetap waras adalah hal yang paling penting. Traveling bisa jadi salah satu cara menghilangkan stress selama bekerja. Lain halnya di masa pandemi ini, bepergian masih menjadi momok yang sangat menyeramkan bagi saya. Lalu bagaimana cara saya supaya tetap waras dan tidak stress di rumah saja? Banyak hal yang bisa saya lakukan untuk tetap menjaga otak saya tetap sehat dan produktif selama di rumah seperti:

  • Menanam dan Merawat Bunga

             Menanam dan merawat bunga merupakan kegiatan yang cukup menyehatkan bagi saya. Meskipun memerlukan banyak usaha dalam menanam dan merawatnya tentu akan ada kepuasan tersendiri setelah melihat taman depan rumah menjadi lebih cantik dengan berbagai warna dari bunga yang ditanam.

  • Menulis

            Menulis adalah kegiatan yang paling efektif untuk mempertahankan agar otak tetap sehat. Sambil mengasah kemampuan menulis juga bisa sambil mengasah otak dalam menuangkan pikiran menjadi sebuah tulisan yang bisa memberikan informasi dan manfaat bagi orang lain. Menulis juga membutuhkan motivasi agar tetap konsisten, salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan mengikuti sebuah komunitas menulis, bersama dengan penulis-penulis yang ada di Indonesia saling memberi semangat agar tetap waras. Salam Sehat.


2. Mengajar Secara Daring


            Melansir kompasiana.com, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem mengeluarkan Surat Edaran No. 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran virus corona yang menyatakan bahwa, proses belajar dilaksanakan dari rumah melalui pembelajaran daring. Mengetahui peraturan tersebut seperti mendengar petir di siang bolong, karena ini terlalu mendadak bagi saya, rekan kerja dan juga para siswa. Sebenarnya saya tidak terlalu kesulitan untuk melakukan pembelajaran secara online, yang saya khawatirkan adalah para siswa yang gagap teknologi serta kurang terfasilitasi karena faktor ekonomi orang tuanya.
             Apalah daya, peraturan tetap peraturan dan pembelajaran secara daring harus tetap dilaksanakan walau apapun yang terjadi. Akhirnya kami memaksa para siswa untuk setidaknya memiliki nomor WA sebagai perantara pemberian tugas. Banyak siswa yang mengeluh karena tidak memiliki HP android namun kami memberika saran agar mereka mengusahakannya, bisa menggunakan nomor WA kakaknya, pamannya, bibinya, orang tuanya atau sepupunya. Permasalahan tidak hanya sampai di situ, kuota internet pun menjadi perhatian khusus, karena kondisi ekonomi orang tua siswa yang tidak stabil juga efek dari Covid-19 ini.
            Saya sebagai guru pun harus mencari strategi mengajar agar dapat mengimbangi kemampuan para siswa belajar dari rumah. Menurut saya pembelajaran daring masih belum cocok diterapkan di desa tempat saya mengajar namun saya berusa untuk memotivasi diri dalam memberikan materi melalui media yang bervariasi seperti, memberikan materi dan penugasan melalui blog, membuat video pembelajaran melalui channel youtube juga pemanfaatan google form untuk link absen dan penilaian harian.
            Dalam pembuatan materi dan penugasan ini memerlukan persiapan yang tidak sedikit, saya harus membuat jadwal dalam seminggu kapan memanfaatkan blog dan kapan memanfaatkan video pembelajaran agar para siswa tidak bosan belajar dari rumah. Saya pun harus menyiapkan waktu khusus ketika menyiapkan materi melalui blog minimal satu hari sebelum pemberian tugas, sedangkan materi melalui video pembelajaran saya membutuhkan waktu minimal dua hari.
            Dari tatap muka menjadi pembelajaran secara daring. Canggung, masih saya rasakan sampai detik ini, namun kita harus bertahan sampai pandemi ini benar-benar lenyap dari muka bumi. Bertahanlah sedikit lagi wahai diri, semoga apa yang sedang diusahakan saat ini bisa memberikan pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan bagi para siswa. Terus belajar untuk menjadi pendidik yang lebih baik lagi ke depannya.


Penutup

            Apakah harus berterimakasih atau tidak pada mikro organisme tak kasat mata itu? Tanpa sadar ia memberikan pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan saya, baik dari pola hidup maupun cara mengajar. Apapun itu, hidup harus terus bersyukur atas nafas yang masih bisa dihirup, atas kesempatan masih bisa memberi ilmu. Tetaplah berusaha yang terbaik, agar kehidupan di masa yang akan datang menjadi lebih baik.
                        

Sumber: https://www.kompasiana.com/yusrilrao/5f30ee78d541df53ea772133/bagaiamana-dampak-covid-19-terhadap-pendidikan                        

Comments

Popular Posts