Day 60 : Menemukan Passion Bagian I

           



          Sejak saya kecil, saya selalu kesulitan menemukan passion. Bingung, saya tuh jagonya di mana ya? Di bidang apa ya? Meskipun sejak pandai menulis saya sudah menggeluti dunia percurhatan yaitu menulis di buku diari sampai tingkat SMA, herannya saya tidak merasa menulis adalah passion saya, mungkin pada saat itu saya masih belum ngerti mungkin ya. Saya masih bingung dan sangat butuh pegangan, sandaran hidup juga boleh, eh.

            Berbeda halnya dengan adik saya yang hobi jualan sejak SMK, dia tuh tekun banget. Seribu, dua ribu untung dikumpulkan, kemudian dia putar lagi dan sampai sekarang sudah berumah tangga dia membuat rumah dengan model ruko supaya bisa berjualan.

            Saya? Jualan gak bisa, belum dicoba menawarkan udah takut duluan, takut ditolak, takut gak ada yang beli ... Padahal Rasulullah seorang pedagang. Hemph ... Payah! Pernah dulu setelah lulus wisuda sambil menunggu panggilan pekerjaan saya membuka sebuah kursus Bahasa Inggris di rumah, namun hanya bertahan tiga bulan, setelah itu sampai sekarang saya belum berkesempatan kembali membuka les meskipun rekan-rekan guru menyarankan. Izin suami belum saya kantongi, Paksu bilang nanti saya kecapaian sedangkan niat dihati ingin program hamil, setelah hamil dan lahiran nanti mungkin akan ia pertimbangkan. Weleh mas, mas, mau buka les ya tambah repot sambil ngasuh anak, ya wis ora jadi buka les, nunggu anak e gede dulu. Akhirnya rencana buka les/bimbel untuk sementara  ditunda  dulu sampai waktu yang belum bisa dipastikan.

            Setelah delapan tahun saya fokus mengurusi pekerjaan sebagai guru di sekolah, lama-kelamaan saya mulai kembali menekuni kecintaan saya pada dunia menulis. Passion ini saya lakukan saat usia saya di akhir kepala dua. Tepatnya di akhir tahun 2019 saya mengikuti sebuah komunitas menulis online yang akhirnya mengantarkan saya berhasil menelurkan sebuah novelet yang berjudul "Dari Semesta untuk Hyera" dan beberapa antologi. Sejak saat itu alhamdulillah saya masih tekun dan rutin menulis sampai detik ini meski sesekali hutang tulisan.

        Setelah mengikuti Ramadhan Writing Challenge pada tahun 2019 yang di adakan oleh Komunitas One Day One Post saya jatuh cinta, sungguh. Setelah merasa tertantang menulis selama tiga puluh hari selama Ramadhan saya semakin penasaran dengan komunitas ODOP. Sampai akhirnya saya mendapat kabar bahwa ODOP akan membuka rekrutmen anggota Batch 7. Tentu saya tidak akan menyia-nyiakan dan melewatkan kesempatan ini. Saya merasa setelah berhasil lulus RWC saya yakin juga bisa lulus OPREC ODOP BATCH 7. 

        Kenyataannya, saya gagal saudara-saudara! Saya terpental pada saat harus membuat tugas me-review buku  pada pekan ketiga. Saya hanya bisa bertahan selama 3 pekan dan akhirnya saya harus keluar dari pertarungan tersebut. Lama saya termenung dan menyesali ketidak konsistenan saya saat itu. Sejak saat itu saya bertekad akan mengikuti OPREC ODOP BATCH selanjutnya dan harus LULUS!

            Pada tahun 2020 saya kembali mengikuti RWC, alhamdulillah RWC kali ini tidak seperti tahun pertama, lebih lancar, mulus dan hampir tanpa hambatan. Demi Allah ... saya seperti sangat menikmatinya kali ini. Seperti biasa setelah RWC maka pada bulan berikutnya akan diadakan Open Recruitment anggota ODOP Batch 8. Saya tidak sabar untuk mengikutinya, hampir saya gagal melakukan pendaftaran karena saya mendaftar di detik-detik penutupan. Setelah berkejaran dengan waktu akhirnya saya berhasil mendaftar dan setelah itu ternyata ada pengumuman dari IG Komunitas ODOP bahwa pendaftaran di perpanjang yang membuat saya tepuk jidat. It's fine, toh saya sudah mendaftar, tinggal menunggu hasil.

        Awal september saya berhasil masuk seleksi Oprec dan bergabung bersama teman-teman hebat lainnya menimba ilmu dengan orang-orang yang juga hebat. Pada saat inilah mata saya terbuka lebar dan merasakan betapa Allah itu sayang. Saya baru merasakan hikmah kenapa tahun lalu saya gagal pada pekan ketiga? Allah mau saya belajar dan menemukan ritme menulis. Thanks God, akhirnya saya masih tidak menyangka bahwa saat ini beberapa langkah lagi menuju kelulusan. Semoga Allah mudahkan, Amiin ...

        Pada Oprec batch 8 inilah saya menemukan trik-trik yang dibagikan teman-teman dan para PJ agar bisa tetap menulis meskipun hutang tulisan, yaitu dengan cara membuat agenda ide setiap minggunya. Then it works! Meskipun saya modifikasi sedikit, seperti pada minggu pertama saya menulis cerpen, minggu kedua review, minggu ketiga tentang kesukaan dan hobi, minggu keempat puisi, minggu kelima tips dan trik, minggu keenam fiksi mini, minggu ketujuh mengulas cerpen, minggu kedelapan puisi lagi, minggu kesembilan apa saja yang muncul di kepala yang penting lolos ke pekan depan. 

            Hutang tulisan juga menjadi sebuah problem yang harus dicarikan jalan keluarnya, akhirnya saya mencoba untuk menanamkan sebuah sugesti pada diri saya bahwa saya tidak boleh hutang lebih dari dua tulisan, karena jika saya sudah hutang lebih dari dua maka untuk membayar hutang akan sangat susah membangkitkan mood untuk menulis. Ujung-ujungnya stuckUntuk dapat melaju ke pekan berikutnya ada poin minimal yang harus dikumpulkan, maka saya harus rajin menghitung poin dan hutang, ditambah dari poin keaktifan selama materi diberikan, diskusi, perkenalan, dan tugas wajib.

            Salah satu hal yang sangat penting selain harus menulis setiap hari, tidak boleh hutang tulisan dan aktif pada setiap kegiatan saya juga harus mempersiapkan tulisan tantangan sebagai tugas wajib. Setiap pekan tugas wajib berbeda-beda, namun saya sangat senang dengan komunitas ini, mereka benar-benar membimbing kami yang notabene nol akan dunia tulis menulis hingga bisa melek sedikit. Komunitas ini tidak asal memberikan tugas wajib mereka juga memberikan materi dua kali seminggu agar kami dapat belajar sebelum membuat tugas wajib dan sekali lagi, konsep ini benar-benar bekerja pada saya. Buktinya, saya berhasil bertahan sampai pekan kesembilan.

            Satu hal lagi yang paling saya cinta pada komunitas ini, mereka tidak meminta kami untuk menulis dengan sempurna, yang diinginkan adalah menulis dengan konsisten. Nulis aja dulu, masalah kualitas mah, seiring dengan waktu dan rajin latihan dengan menulis setiap hari maka lama-kelamaan akan terbentuk sendiri, dan saya sangat suka itu.

            Terakhir, setelah lulus dari rekrutmen ini kami pun tidak dipaksa untuk mengikuti program-program yang ada tapi kan sayang kalau sudah lulus lalu tidak memanfaatkan program ODOP yang keren-keren itu seperti ; Blogger Squad, ODOP Tembus Media, ODOP Nulis Buku, Reading Challenge dll.

            Jadi apakah saya sudah menemukan passion saya? Bismillah, semoga Komunitas ODOP bisa menjembatani saya untuk lebih mencintai apa yang ingin saya wujudkan, yaitu bisa memberikan manfaat melalui sebuah tulisan. Amiin ...

Comments

  1. Aamiin. Seneng deh sama tulisan ini. Btw, kita sama, ikutan ODOP #7 dulu hehe

    Semangat terus buat kedepannya ♡

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cinca?? ?? Semoga tahun ini member ODOP bisa kita sandang ya kak ... 😍💪

      Delete
    2. Semangat terus ya Mbaaak

      Delete
  2. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin. Semangat kak, semoga semakin mantap menebar manfaat melalui tulisan.....
    Penulis hebat:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiinnn ya robbi ... semangat juga buat kakaknya.....

      Delete
  3. Keren tulisannya kakak.. aku ketawa pas bahas utang tulisan di ODOP, ngalamin soalnya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngutang adalah salah satu hal yang bisa memacu adrenalin selama di rumah aja.

      Delete
  4. Seneng baca tulisan ini. Semangat terus yuk mbaak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mbak, semangat terooosss 💪💪💪

      Delete
  5. Ketika kita merasa berat melakukan sesuatu, tapi kita tak menyerah, mungkin itulah passion :)

    ReplyDelete
  6. Aku suka sekali dengan semangatnya...insyaallah kita semua bakal lulus tahun ini. Aamin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiinnn ya robbi, semangat mabk 💪💪💪

      Delete

Post a Comment

Popular Posts